Skwaz

Archive for the ‘Sastra’ Category

” Apa ini?”

” Ini delima. Masa’ kamu gak tau??”

Dia tertawa tertahan. Menertawakanku.

Tapi segera saja berhenti melihat tatapan mataku yang terluka.

” Oh. Oke. Sorry.

Ini delima. Punica granatum linn. Mengandung vitamin A & C. Asam sitrat, asam malat, glukosa, fruktosa, maltosa, juga alkoloid pelletierine yang beracun banget buat cacing pita, cacing gelang, cacing kremi.

Aku saranin kamu makan ini.”

Aku mengeryit, ” kamu pikir aku cacingan?”

Tawanya meledak.

Ya Tuhan, orang ini menyebalkan sekali.

” Ini.”

Sebuah apel.

Please.”

Dia memohon agar aku menerima pemberiannya.

Pelan kuambil apel itu.

” Permintaan maafmu kuterima.”

____________________________

* Korean : Sagwa = apel/maaf.

Iklan

نقل فؤادك حيث شئت من الهوى مـا الحـب إلا للحبيب الأول

Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai

Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu

Yaitu Alloh jalla wa ‘ala

كم منزل في الأرض يألفه الفتى وحنينـــه أبــدا لأول مــنزل

Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang

Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula

Yaitu surga

Tadi malam aku terbangun,

Dengan gelisah, sesak dan tersedak.

Aku yakin itu mimpi,

Tapi terlalu nyata dan bagaikan film usang,

Yang akan selalu menghantui malamku…

Tadi malam aku terbangun,

Dengan rasa cinta yang mendesak jantung!

Aku harus bicara,

Padamu, pada mereka, pada dunia.

Tapi malam terlalu larut…

Aku menunggu hujan,

Yang akan membuatkanku pelangi di malam hari,

Membiarkanku meluncur di tiap sudutnya,

Dan melihatmu menyambutku di seberang sana.

Aku menunggu mentari,

Yang akan membuatkanku aurora di malam hari,

Membiarkanku bernafas dalam jutaan warna,

Dan melihatmu tertawa dari kejauhan.

Maka aku meminta izin Allah dan RasulNya,

Meminta izin Ayah dan Ibunda,

Karena aku harus bicara,

Padamu, pada mereka, pada dunia.

Hhh,

Seolah aku bisa melihat,

Kupu-kupu yang terbang melintasi langit berawan,

Memberikan semangat.

Kawan, tadi malam aku terbangun,

Dan aku menangis seperti anak kecil,

Di pelukan Mintaka, Alnilam, dan Alnitak,

Di pelukan Orion,

Di pelukan ribuan bintang!

Di pelukan siluet cahaya bulan…

Tadi malam aku terbangun,

Sekali lagi,

Dengan rasa cinta yang mendesak jiwa.

Ah, akan kuceritakan yang terjadi esok hari,

Padamu, pada mereka, pada dunia…

Yogyakarta, 16 November 2010

Catatan penulis:

1. Mintaka (Delta Orionis) adalah bintang yang terletak di Rasi Orion, dengan jarak lebih kurang 900 juta tahun cahaya dari bumi.

2. Alnilam (Epsilon Orionis) adalah bintang yang terletak di Rasi Orion, berwarna biru dan merupakan bintang tercerah ke-30 di langit malam.

3. Alnitak (Zeta Orionis) adalah bintang yang terletak di Rasi Orion, dengan jarak lebih kurang 800 juta tahun cahaya dari bumi, dan merupakan bintang kelas O tercerah di langit malam.

4. Ketiga bintang di atas merupakan bintang-bintang yang membentuk Sabuk Orion.

Orion

(dari berbagai sumber)

 

Thanks to PS who made it up for me.

 

 

Stranger

Stranger

 

 

Someone stranger

Standing in a mirror

I can’t believe what I see

How much love was taken away from me

 

 

My heart cries out loud

Everytime I feel lonely in the crowd

Getting you out of my mind

Like separating the wind from the cloud

 

 

Afraid

Afraid

 

I’m so afraid

of losing someone I never have

Crazy, oh crazy

Finding the reason for my jealously

 

 

All I can remember

When you left me alone

Under the moon over my obscure little town

As long as I can remember

Love has turned to be as cold as December

 

 

The moon over my obscure little town

The moon over my obscure little town

 

(Pandang Bulan: 198-199)

 

 

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

 

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,

sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya,

dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

 

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,

tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,

kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

 

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku,

dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,

cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

 

BJ Habibie dan Istrinya yang koma..

Kukenakan mukenaku begitu azan terdengar. Mukena yang sejak tadi kubiarkan saja terlipat ditempatnya. Sebuah tas mukena kecil yang mudah dibawa-bawa. Sebenarnya masjid sekolahku ini memiliki beberapa mukena untuk dipakai siapa saja tapi aku lebih menyukai sholat dengan mukenaku sendiri. Mukena pemberian ibu yang ibu beli saat pergi keluar kota untuk urusan kantor. Oleh-oleh yang sangat kusukai. Warnanya, bordiran pada pinggirannya juga bahannya. Sangat ringan. Aku tak pernah terganggu membawanya selalu bersamaku kemanapun aku pergi. Begitu ringan. Begitu praktis. Terlebih mukena itu cantik.

Beberapa teman masuk. Teman-teman sekelasku. Aku melempar senyum pada mereka. Aku bertemu mereka sebelumnya di kantin. Begitu selesai makan aku pamit dan langsung ke masjid. Aku sudah berada di masjid ini sekitar setengah jam sebelum azan berkumandang. Sengaja menunggu disana agar bisa ikut jama’ahan kloter pertama. Menunggu sambil membaca buku yang begitu membangkitkan semangat berislamku. Oh dunia! Indahnya hidup menjadi seorang muslim. Beriman kepada Pencipta jagat raya dan mengikuti sang pembawa risalah cinta dari langit. Air mataku menetes begitu saja karena merindukannya. Segera kuhapus khawatir dilihat teman, kalau-kalau mereka bertanya masalah apa yang terjadi padaku. Bagaimana menjelaskan rasa rindu yang bahkan akupun tak mengerti? Membaca jalan hidup Rosul membuatku merasakan keinginan kuat ingin bersua. Perasaan menekan didalam dada. Tapi siapalah aku ini.

Begitu selesai mengikat ikatan kepalaku, aku duduk bersila mendengarkan azan sambil berzikir. Semilir angin bertiup lewat jendela-jendela besar terbuka mengelus pipiku. Mukenaku melambai. Seorang teman mengambil tempat di dekatku. Memberikan senyuman khasnya. Senyum lebar dan mata lucu berbinar-binar. Aku membalas senyumnya. Tiba-tiba ia sudah menelungkup dipangkuanku. Merengek.

“ Heeeee’eee, Chilaaa…..”

Aku bingung. Sekejap ia menelungkup malu kemudian bangkit. Aku diam saja.

“ Kalau liat kamu aku jadi merasa bersalaaah.”

Aku mengerutkan kening.

“ Aku tahu kalau yang aku lakuin itu salah, tapi tetep aja aku gak bisa!”

Segera saja kusudahi kebingunganku dan bertanya, “ Kara kenapa?”

“ Aku tahu kalau pacaran itu gak boleh tapi aku gak bisa mutusin dia!”

Aku menangkap maksudnya. Ini pasti tentang perasaan bersalah atas kisah cinta tak semestinya. Kelihatannya Kara ingin segera menumpahkan unek-uneknya padaku sekarang juga. Kucegah dengan membisikkan kata-kata ketelinganya karena azan sudah tiba dipenghujungnya. Aku ingin segera rawatib dulu. Kuharap ini juga saran untuk meringkankan perasaan dihatinya. Bersujud pada Alloh adalah obat segala kegundahan hati.

Kara menghampiriku lagi setelah selesai sholat. Aku biasanya langsung meninggalkan masjid namun kuurungkan. Aku memang menunggunya menghampiriku lagi. Menunggu sampai masjid agak sepi untuk bicara dari hati ke hati. Hal ini sungguh tak biasanya. Aku memang berteman baik dengan Kara tapi kami tidak terlalu dekat. Tiba-tiba saja dia ingin mencurahkan perasaannya padaku. Tapi kenapa tiba-tiba aku? Kenapa Kara bilang, kalau liat kamu aku jadi merasa bersalah? Apa ini karena bukuku yang dibacanya? Buku yang didalamnya juga menjelaskan hukum pacaran? Entahlah. Kudengarkan saja ia berbicara.

“ Jadi Chila mau bilang apa?”

Lagi-lagi keningku mengerut.

“ Katanya tadi mau bicara habis sholat, apa?”

Kerutan dikeningku semakin dalam, lantas tersenyum.

“ Cerita dulu kamu kenapa.”

Kara senyam-senyum malu-malu ragu, menggosok-gosok lantai dengan telapak tangannya.

“ Jadi gini, Chiiiil….”

Kara bercerita panjang lebar tentang perasaannya. Kisah cintanya. Kegundahan hatinya.

“ Aku tahu aku tu salah tapi aku tu bingung.”

Aku tersenyum, “ Jadi kenapa Kara bilang kalau ngeliat Chila jadi ngerasa bersalah?”

“ Soalnya kamu kan sholehah. Jilbabmu lebar.”

Aku mengerti sekarang. Entah bagaimana, aku sudah menjelaskan banyak hal tentang pacaran.

“ Nah, sekarang. Kira-kira kalau kita gak mau nurutin aturannya Alloh gitu yah. Trus siapa coba yang rugi?”

“ Ya kita.”

“ Sepakat. Trus misalnya Alloh bilang pacaran itu gak boleh karena mendekati zina itu gak bagus. Kira-kira itu buat kebaikannya siapa? Alloh?”

“ Buat kebaikan kita.”

“ Nah, itu Kara tahu.”

Dan akupun tersenyumlah untuk yang kesekian kalinya. Tapi tiba-tiba saja Kara menangis.

“ Tapi aku sayang banget Chil sama diaaaa.”

Aku membiarkannya saja menangis menutupi wajah dengan telapak tangan. Aku mengerti perasaannya. Karena dulu pun aku pernah begitu. Maksudku pernah merasakan hal yang sama. Namun kasusku berbeda dengan Kara. Aku tak sampai berpacaran dengan si dia. Aku bersyukur pada Alloh tak pernah sampai jadian dengan laki-laki itu.

Aku benar mengerti apa yang Kara rasakan saat ini. Perasaan sesak itu. Sakit yang menekan-nekan. Bahkan waktu itu hampir saja aku mati karenanya. Mati kehabisan nafas. Tangis adalah satu-satunya cara menghindar dari kematian. Mati karena keputusan sakit yang kuambil. Meski sakit, aku tahu aku harus.

Berjauhan dengan orang yang kita sayangi itu menyakitkan. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, perhatiannya, kata-kata bijaknya, candanya. Namun perintah tetap perintah. Peraturan dibuat untuk ditaati. Dan tak ada pilihan. Aku sudah memilih untuk berikrar, aku dengar dan aku taat. Maka jadilah malam itu aku tutup dengan linangan air mata basah jatuh ke bantal. Aku bahkan tak bisa tidur. Kuputuskan mengadu saja, dan aku menangis dalam sujud. Menangis terisak-isak karena beban didada yang tak sanggup kutahan lagi. Ya Alloh, aku mencintainya!

Tapi cinta macam apa?

Bila kubiarkan diriku larut dalam asmara bersamanya, masihkah pantas aku mengatakan aku mencintainya sedang disetiap detik akulah penyebab murka Alloh turun padanya?

Cinta macam apa?

Kalau kubiarkan saja setan bertepuk tangan atas kebersamaan kami yang melukai hati Rosululloh mengetahui umat yang dicintainya menyeleweng atas risalahnya?

Cinta macam apa yang menjauhkan dirinya yang kucintai dengan Maha Pencintanya? Dan apalah arti rasa cintaku dibandingkan kecintaan Alloh padanya, yang disetiap detik tak pernah melupakannya. Mengatur setiap aliran darahnya, denyut jantungnya. Menjaga pertahanan tubuhnya hingga ia terlindung dari bahaya diluar sana. Melindungi hatinya dari rasa takut dan cemas. Mencintainya bahkan ketika lelaki yang kucintai itu melupakan-Nya. Cinta macam apa yang kurasakan ini?

Aku tahu aku mencintainya tapi apalah artinya cintaku dibandingkan cinta Alloh kepadanya. Dan apalah arti cintanya dibandingkan cintanya Alloh kepadaku. Apalah artinya. Berbulan-bulan aku menangis karena merindukannya. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku menjauhinya karena aku benar-benar mencintainya. BENAR-BENAR CINTA!

Dan masih kubiarkan saja Kara menangis sampai puas. Kini ia menatapku.

“ Aku juga dulu begitu.”

“ Chila pernah pacaran juga?”

Aku menggeleng, Kara diam menantiku bicara. Matanya sembam karena air mata. Aku tersenyum saat mulai bercerita.

Aku beruntung sudah mendapatkan penjelasan hukumnya ketika hal itu menimpaku. Hal yang siapapun pernah mengalaminya. Ya, jatuh cinta. Jatuh cinta pada senior cowok idola sekolah. Dia kakak kelasku di SMP. Aku tak tahu kenapa aku bisa menyukainya.  Benar-benar tak tahu kenapa, kapan, bagaimana. Tiba-tiba saja perasaan itu hadir dan hari itu aku merasa begitu berbeda.

Aku tipe cewek yang susah naksir cowok. Terlalu pemilih katanya. Tapi tidak. Bukan itu. Setelah dipikir-pikir aku bukannya pemilih. Hanya terlalu menyerahkan pada naluriku saja. Kalau suka ya suka, kalau tidak ya tidak. Tak pernah sengaja berpikir seseorang itu cukup baik atau tidak untuk disukai. Saat perasaan itu datang, maka yang terjadi terjadilah.

Entah bagaimana akhirnya kami dekat. Sms tiap hari. Sehari saja tak ada kabar darinya hatiku gundah. Parahnya lagi ketika dia terlambat membalas saja aku sudah tak karuan gelisahnya. Aku sadar aku memang menyukainya. Perasaan itu begitu menggangguku. Mana mungkin Chila bisa suka sama laki-laki. Ajaib. Hebat benar laki-laki itu mendapat perhatianku. Aku hanya menganggapnya teman baik saja tidak lebih. Tapi kenapa aku resah kalau tak mendapat kabar darinya? Resah bila tak bertemu. Resah hanya karena ia lambat membalas sms. Kenapa? Kenapa pula aku selalu merasa senang dekat dengannya? Dunia jadi begitu berwarna. Mawar-mawar bermekaran bunganya. Kupu-kupu menari-nari indah bersamanya. Kenapa? Kenapa???

Dan akupun mengaku kalah dalam pengakuan bahwa aku menyukainya. Menyukainya lebih dari sekedar teman biasa. Melihat senyumnya membuatku merona-rona. Tapi pantaskah ini?

Aku dengar dari kakak bahwa pacaran itu terlarang. Tapi aku kan tidak berpacaran dengannya. Hanya dekat saja. Tapi apa beda kedekatan kami ini dengan gaya orang yang sungguhan pacaran? Teman-temanku juga begitu dengan pacar-pacarnya. Jadi apa bedanya?

Apakah tak merasa malu sedang Alloh jelas-jelas selalu mengawasi?

Awalnya aku ragu. Aku tak kuat. Aku pasti tak akan mampu. Tapi sampai kapan akan terus begini? Berkubang dalam kenistaan maksiat ini? Kusiapkan seluruh keberanian. Kebulatkan tekad dan keyakinan. Bismilah. Kuketik smsm untuknya.

Asslkum wr wb. K, lgi apa? chila ada perlu.

Kukirim. Tak sampai semenit balasannya datang.

Lgi bljar ni, dek. Bsok ulgn fsika. Sneng kmu sms, jd ad yg nmenin kk bljar ;p Perlu apa?

Kutarik nafas dalam-dalam. Kuhembuskan perlahan. Air mataku jatuh.

Gak. Chila cma mw blg mksh udh jdi kk yg baik bwt chila. Mksih udh prhtiin cila. Mksh sllu ad klo cila btuh kk. Pkokx mksih!

Maf krn g bsa jd ade yg baik, maf sllu ngrepotin kk, maf sllu bkin kk ssah. Cila tau hrusx cila blg ini dr dlu. K, cila mw qta brenti sms. Brenti ksh cila prhtian, brenti gngguin cila, brenti nax cila lagi ap, brenti ingetin mkan.

Cila tkut sma Alloh k.

Dan aku tak bisa lagi untuk tidak menangis. Kutunggu balasan darinya. Lama. Aku tahu ia pun sedang mengalami sesuatu. Aku tak mau berharap ia balik menyukaiku. Terlalu menyakitkan kalau seandainya itu tidak benar. Siapalah diriku ini untuk dirinya.

Balasan darinya masuk.

Iy, mksh jg dah mw jd ade bwt kk. Kk ank bungsu jd dri dulu pgn pux ade bneran. Mksh en maf jga. Km mulai skrg baik2 y. n_n

Dan tiga bulan dalam tangisanku pun dimulailah. Perasaanku sakit, kesepian, menderita. Aku tak tahu cara melupakannya. Menangis dalam sujud adalah obat penawarnya. Aku menderita. Tapi kesakitan ini manis. Manisnya berlapis-lapis. Aku menangis namun bibirku menuai senyum. Aku tahu Alloh akan sangat menyayangiku karena ini.

Kini semuanya biasa saja. Aku malah tertawa mengingat betapa bodoh dan sia-sianya air mata yang kubuang dulu. Jatuh cinta itu konyol. Mengatakan kata cinta itu memuakkan. Namun berbeda halnya bila kita merasakannya sendiri. Cinta itu pembicaraan paling tidak penting. Tapi amat sangat penting kalau kau yang mengalaminya sendiri.

Kara mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun ia bersepakat denganku. Aku menambahkan ceritaku dengan cerita tentang bidadari-bidadari suci di surga.

Di dalam surga-surga itu ada bidadari yang baik-baik dan jelita. Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah. Mereka sebelumnya tak pernah disentuh oleh manusia maupun jin. . Maka nikmat Tuhan-mu manakah yana kau dustakan?*

“ Bidadari-bidadari itu suci, baik lagi jelita. Terpelihara dalam kemah dan tak pernah tersentuh sebelumnya. Kalau ingin jadi seperti mereka, maka kita harus berusaha menjaga kesucian kita. Yang gak mau tersentuh selain mahrom kita kelak. Terlebih yang harus kita jaga adalah kesucian hati kita.

Dan ingat. Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik. Janji Alloh maha Benar. Jadi, tugas kita hanyalah menjadi perempuan-perempuan yang baik. Mengerti kan Kara?”

“ Iya, Chil. Makasih ya.”

“ Iya. Kara yang sholehah ya.”

“ Makanya kamu doain aku terus.”

“ Insya Alloh. Amin.”

Aku terbaring, berbalut perban berdarah-darah. Terbaring antara sadar dan bermimpi. Kurasa bermimpi tidak akan sesakit ini. Ini pasti kenyataan. Ya. Ini nyata. Aku mendengar isakan tangis itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku melayang. Kesakitan itu tak kurasakan lagi. Tapi aku tahu ini bukan kematian.

Aku bisa melihat mereka dengan jelas. Setidaknya mereka bersembilan. Mengapa kamar ini jadi begitu sesak? Kurasa tempat ini rumah sakit. Kenapa mereka membiarkan kamarku penuh sesak sedangkan aku sekarat. Astaga! Aku sekarat! Tapi aku?

Hah? Siapa pula yang berbaring di ranjangku berbaring? Innalillah! Itu tubuhku! Jadi aku ini? Bukan main. Sungguh luar biasa! Kupikir cerita-cerita ruh yang keluar dari tubuh dan mengawang-awang hanya rekaan televisi. Dan aku jelas belum mati. Aku masih disini. Masih bersama mereka. Mereka yang sedang menangis. Menangisiku. Hei! Aku baik-baik saja. Mengapa mereka menangisiku saat aku merasa benar-benar baik? Mengherankan.

Aku mengawasi mereka-mereka yang membuang-buang air mata. Mereka teman-temanku. Pasukan slayer, sebutanku untuk mereka, tujuh personil lengkap. Karla, Alfie, Ovie, Erin, Ila, Arel, juga Enez. Mereka mengelilingi ranjangku. Tak mau jauh. Air mata berurai-urai. Tapi aku tak bisa merasakan hal yang sama. Apa saat kita telah berpisah dengan tubuh yang memiliki jantung untuk degupan ngilu ketika berada disituasi seperti ini maka kita tak lagi bisa merasakan perasaan apapun? Karena aku tak mendapat sedikit pun rona.

Disituasi normal, normal ketika aku berada di tubuhku, aku pasti akan ikut menangis bersama mereka. Aku tak bisa menahan air mataku disekeliling orang yang menangis. Satu orang saja yang menangis di depanku, otomatis mata ini akan mengalami hal yang sama. Aku begitu peka. Begitu perasa. Setidaknya tubuh itu yang perasa, bukan aku yang sekarang ini.

Enez menangis memeluk ibuku. Ayah berdiri disana. Lengkap sudah. Tepat Sembilan orang. Sesuai dugaan. Tapi tunggu, ada seseorang lagi di luar sana. Duduk tersungkur di kepalan tangannya. Laki-laki itu menangis juga?

Ila mulai mengoyang-goyang tubuhku yang tak sadarkan diri.

“ Bangun Gi… bangun naaa, kami minta maaf! Makanya cepat banguuun.”

Ila menangis keras. Mendengar tangisan Ila temanku yang lain ikut menangis serupa. Terisak-isak. Aku melayang mendekati Ila, bersandar di bahunya. Aku disini, La. Aku gak marah kok. Aku tahu Ila pasti tak mendengarku. Dan mereka semua sibuk menangis.

Teringat pertama kali mengenal mereka di masa orientasi sekolah. Aku tahu mereka juga baru bertemu satu sama lain hari itu. Dan merasa heran bagaimana mereka bisa terlihat begitu dekat dan kompak layaknya telah menjalin persahabatan bertahun-tahun. Membuat iri. Mereka adalah para selebritis sekolah. Ketika mereka berkumpul dan lewat semua mata tertuju padanya. Walau berlagak tak peduli, mereka cewek-cewek gaul yang senang menjadi pusat perhatian. Style pakaian mereka, aksesoris yang mereka kenakan, handphone terbaru, hebohnya ketika mereka ngumpul. Setiap kali berada didekat mereka aku seperti berdiri dibawah gerhana, diselimuti bayangan. Terintimidasi. Aku hanyalah seorang cupu yang tak kan banyak dikenal orang. Tidak seperti mereka.

Awal aku dekat dengan mereka adalah hari itu. Hari yang tak pernah aku impikan sebelumnya. Hari yang membuka pintu duniaku dan hiruk pikuk dunia mereka. Entah bagaimana hingga akhirnya sepanjang hari itu aku bersama mereka, mengajari mereka ini itu tentang pelajaran yang akan segera diujikan. Ternyata mereka tak menyepelekan sekolah seperti yang kuduga sebelumnya. Aku bermohon ampun pada Alloh atas dugaanku itu. Mereka menyenangkan ketika begitu antusiasnya belajar. Dan aku senang mereka mengerti apa yang kumengerti.

Mereka begitu menyenangkan, yang paling menyenangkanku adalah Ovie. Dia yang paling semangat. Aku seperti ibu guru yang dikelilingi anak-anak TK yang ceria. Hari itu berlalu sangat indah bagiku. Aku senang bisa berbagi ilmu. Dan aku senang saat akhirnya apa yang kuajarkan itulah yang keluar dalam soal ujian. Tapi ada satu hal yang mengganjal hatiku. Mereka selalu membawa catatan kecil ke dalam ruang ujian.

Kau tahu yang terpenting adalah pandangan Alloh di atas pandangan manusia. Kau juga tahu yang terpenting adalah murninya sebuah pencapaian dengan sebuah kejujuran, dan tahu nilai atas usaha sendiri jauh lebih mulia dibandingkan nilai gilang gemilang dengan kecurangan disana-sini. Tapi tetap saja. Catatan kecil yang dibawa masuk ke dalam ruang ujian, mencuri lihat saat pengawas ujian lengah. Berbisik-bisik minta jawaban pada teman disebelah.

Bukankah Alloh Maha Melihat? Bukankah jujur dalam ujian suatu kebaikan? Dan bukankah selalu ada balasan yang lebih baik atas sebuah kebaikan? Aku ingin sekali mereka memahami dan melakukan sama seperti yang kulakukan. Pernah kuberi tahu kebaikan menjawab soal-soal itu dengan kemampuan sendiri dan cara yang benar. Tapi tetap saja. Kuserahkan semua urusan pada Alloh.

Mereka bertujuh, pasukan slayer seperti yang kubilang, memiliki kecerdasan yang sama denganku. Tidak ada bedanya. Mungkin perbedaannya adalah cara belajar dan kesungguhan niat. Itu saja. Aku dengar mereka masih sempat (menyempatkan diri mungkin lebih tepat) nonton televisi acara ini itu saat minggu ujian, jalan-jalan kesana kemari, berbuat ini itu. Tapi aku pun tak tahu. Mereka tak pernah bercerita langsung apa yang mereka perbuat. Aku hanya mencuri dengar waktu mereka berbincang di dekatku. Tentang reality show dan semacamnya.

Ya, hanya itu perbedaannya. Saat mereka sedang santai dan melupakan pelajaran. Aku sudah habis membaca bahan bacaan dan terus mengulang hingga malam. Mengulang dikeesokan harinya. Dan tak kan tetap betah didepan materi yang “itu-itu” saja kalau tak sungguh-sungguh niat. Maka beruntunglah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Alloh dan mendapat banyak kemudahan menjalankannya.

Pasukan slayer selalu.. oh fine. Aku akan ceritakan dulu mengapa mereka kunamai begitu. Kenapa kubilang, “kunamai mereka pasukan slayer”, lihat garis bawah itu. ku-na-ma-i karena mereka tak pernah menamai kelompok mereka begitu. Gank ini awalnya beranggotakan 5 orang. Nama gank mereka sesuai jumlahnya, seperti sebuah buku populer jaman SD, Big Five. Karena kemudian bergabung 2 orang lagi nama itu tak pernah disebut-sebut. Dan mereka seperti enggan menamai kelompok mereka. Nama Big Five sudah begitu populer. Maka kebijakankulah menamai mereka pasukan slayer (walau mereka tak pernah tahu).

Nama itu begitu saja muncul dikepalaku, alasannya karena tiap hari aku melihat mereka begitu. Seperti parade harian. Saat bel pulang berbunyi mereka berberes, serempak memakai slayer kesayangan mereka. Dan itu terlihat keren. Setidaknya bagiku.

Slayer yang mereka pakai sungguh crunchy. Warna warni dengan gambar-gambar yang unik. Saat mereka berjejer bersama, pandangan tak lepas dari pameran slayer yang mereka gunakan. Yang paling menarik bagiku adalah slayer dengan warna-warni girly, pink, biru langit, hijau daun, kuning cerah yang kalau diperhatikan baik-baik akan kau lihat jelas pola-pola yang sesaat membuatmu mengeryitkan kening namun kemudian tertawa dan menyukainya. Aku tak tahu mengapa aku merasa begitu. Tapi slayer itu benar-benar lucu. Tebak apa gambarnya? Well, kami sebut itu beha sempak beha sempak (oh jangan bilang aku kasar, memang itu gambarnya!!).

Semakin kau mengenal mereka semakin kau menyadari bahwa semua orang ternyata baik. Mereka tidak sok layaknya cewek-cewek sok gaul yang di tv-tv. Duh, lagi-lagi aku katakan aku pun tidak begitu tahu. Aku tak pernah lagi menonton film-film, terutama yang mengajarkan hal-hal jelek dan membuang-buang waktu seperti itu. Mereka memang baik walau ada hal yang perlu digarisbawahi dari mereka. Hal itu adalah kelakuan mereka kacau. Aku tak pernah berhenti tertawa sampai perutku rasanya keram berada didekat mereka.

Ila kadang-kadang mengeluarkan gerakan-gerakan aneh tiba-tiba. Berjoget-joget heboh tak karuan. Dan itu lucu.  Yah, paling tidak selama tidak ada teman laki-laki yang melihat maka itu tetap lucu. Dan celetukan-celetukan spontannya juga tak tertahankan. Ada-ada saja. Dan aku tak kan mampu menahan tawa kalau ia sudah begitu.

Aku ingat pernah dihukum di masa orientasi gara-gara dia. Waktu itu Ila ditunjuk maju dan diminta memperagakan sesuatu oleh kakak kelas. Seperti apapun itu kami dilarang tertawa. Kelihatan gigi saja terlarang, apalagi sampai tertawa. Dan rupanya aku naas hari itu.

Kupikir aku akan bertahan karena seperti yang sudah-sudah, teman-teman yang diminta memperagakan sesuatu hanya untuk jadi bahan tertawaan kakak-kakak senior benar-benar tak lucu. Jayus. Mengalihkan pikiran sedikit masalah kelucuan teratasi. Tidak seperti Ila waktu dia diminta memeragakan Tikil (pelesetan Tukul, karena Ila perempuan).

“ Wree, wreee, wrenaldi. Puas? Puas? Puas? Ta’ soebek-soebek mulutmu!”

Aku gelagapan menutup mulut. Kakak-kakak senior meledak. Kami para junior hampir mati menahan tawa. Mereka malah menyuruh Ila mengulang gerakannya. Dan habislah aku. Aku menutup mulutku rapat-rapat, mendekapnya kuat-kuat dengan kedua tangan. Tapi tetap saja aku tak bisa berhenti terbatuk-batuk tawa. Dan akupun selesai. Seorang kakak menunjukku maju. Awas kau, Ila.

Karla, Alfie dan Enez pernah sekelompok belajar denganku. Hari itu kami berkumpul di rumah seorang teman yang jauh dari rumahku. Maka akupun menumpang Enez. Kami sejalur. Aku menyukai Enez sekali sejak hari itu. Jalan masuk dari gangku ke rumah cukup jauh. Tapi ia tetap mau saja mengantarkanku sampai depan rumah selesainya dari kerja kelompok.

“ Aku ini orangnya gak tegaan, Gi.” Ujarnya dengan logat khas kutainya, “ hali!”

Aku kaget. Baru saja ia mengelus hatiku dengan bilang ia tak tega, sungguh baik hati. Seketika ia hempas dengan mengataiku hali. Hali itu bahasa kutai. Dalam bahasa Indonesia berarti bodoh. Aku cemberut sesaat lalu cepat tersenyum lagi melepas kepergiannya. Bagaimanapun ia baik mau mengantarku. Aku jadi menghemat air keringatku.

Karla dan Alfie punya logat yang sama. Aku menyukai logat itu karena terdengar begitu halus. Aku juga suka tiap intonasi dan penekanan kata-kata setiap mereka berbicara. Mungkin itu juga sebabnya anggota pasukan slayer yang lain keranjingan memakai bahasa kutai.

“ Fie, aku jono’ wan pacarku.” Bisik Arel pada Alfie hari itu yang tak sengaja kudengar.

Logat Arel berbeda, dia bukan asli kutai seperti yang lain. Jono’? Apa pula itu? Aku menebak-nebak. Pasti ada hubungan dengan pacar-pacaran. Jono’ = cinta? Jono’ = marahan? Jono’ = putusan? Aku juga tak tahu. Sampai akhirnya aku tahu sendiri entah bagaimana. Jono’ itu artinya kangen. Mulutku membulat. Manggut-manggut.

Si Erin kurang lebih sama. Ia juga berlogat yang sama. Dan dia perkasa. Haha! Sebenarnya tidak begitu juga. Aku hanya kagum dengan kecakapan fisiknya. Waktu masa orientasi dan out bond di lapangan tembak. Dia selalu jadi cewek yang tertangguh. Saat aku memilih untuk tidak menyebrang jembatan tali satu karena ketakutan (dan pasti itu melelahkan sekali) ia mampu menyebranginya dengan merayap-rayap. Aku banyak memuji Alloh karenanya.

Mereka memang baik itu benar. Dan mereka juga berhati lembut. Buktinya saat aku menjelaskan ini itu tentang Islam, mereka tidak menghindar malah mendengarkan dan menyimak. Terkadang bertanya banyak hal-hal yang menarik bagi mereka.

Mereka juga antusias waktu kutunjukkan amalan ringan namun bernilai besar. Aku membaca sebuah artikel dari internet. Kusalin dibukuku agar bisa kutunjukkan pada teman-teman.

“ Ada stopwatch, Vie?”

“ Ada nih, di HP.”

“ Gimana nih makainya?”

“ Nih, aduh salah pencet. Ini nah.”

Kupegang Hpnya, ” Bisa bilang subhanalloh?”

“ Subhanalloh.”

“ 3x!”

“ Subhanalloh, subhanalloh, subhanalloh.”

“ Susah gak?”

Ovie menggeleng, “Gak.”

“ Kalau gitu kita hitung, berapa waktu yang kamu butuhin buat nyebut subhanalloh 100x.”

Aku stel stopwatchnya, “ Siap…? Mulai!”

Ovie mulai komat kamit sambil menghitung jumlah tasbih yang dibacanya. Aku bersiap menunggu tasbih terakhirnya, dan yak!

“ 39 detik!”

Kutulis namanya di bawah salinanku, beserta menit pencapaiannya.

“ Coba baca ini.”

Musa al-Juhani menuturkan kepada kami dari Mush’ab bin Sa’d. Dia mengatakan: Ayahku menuturkan kepadaku, dia berkata: Dahulu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau mengatakan, “Apakah salah seorang di antara kalian mampu untuk menghasilkan pada setiap hari seribu kebaikan?”. Lalu ada seorang yang duduk bersama beliau bertanya, “Bagaimana salah seorang di antara kami bisa menghasilkan seribu kebaikan?”. Beliau menjawab, “Yaitu dengan bertasbih (membaca subhanallah) seratus kali, maka dengan itu akan dicatat seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar)

“ Jadi aku dah bikin seribu kebaikan lah ni?”

“ Yap! Juga menghapus seribu kesalahan.”

Ovie terpesona pada hadits itu. Aku juga. Terlebih ketika aku melihatnya berkalkulasi dengan dosa dan kebaikan.

“ Kalau gitu, kira-kira dosaku berapa ya? Berarti biar tehapus musti dzikir berapa kali?”

Aku menyodorkan salinan itu pada yang lain. Ovie membantu Erin menghitung waktunya. Metode penghitungan waktu itu terbesit begitu saja olehku untuk menunjukkan betapa mudah dan singkatnya amalan ringan nan dahsyat itu. Kita punya bermilyar-milyar detik bergelimang kesalahan yang tidak kita sadari. Dan terhapus 1000 diantaranya dan menambah 1000 kebaikan lagi dalam 39 detik (well, itu waktu pencapaian Ovie) yang terpenting bukan seberapa cepat kita mengucapkannya tapi seberapa dalam kita meresapi kalimat itu. Bahkan Lailahailalloh jauh lebih dahsyat. Kalimat itu akan lebih berat bila berada di atas timbangan yang sama dengan langit bumi beserta seluruh isinya.

Aku ingat hari itu aku berbincang dengan mereka di kelas, ya entah bagaimana mereka semua masuk kelas yang sama di kelas II, kelas yang sama juga denganku. Tempat duduk kami berdekatan. Ovie dengan Ila, Karla dengan Alfie, Arel dengan Erin dan aku duduk di samping Enez. Menjelaskan tentang sesuatu yang mereka tanyakan padaku, aku lupa apa itu. Segera saja setelah itu Ovie berbisik padaku,

“ Gi ajarin aku ya.”

Aku bingung, apa yang dimaksudnya dengan ajarin itu. Ngajarin apa? Ujungnya aku tahu ia minta diajari belajar agama. Aku malu. Aku juga masih perlu banyak belajar. Tapi tak mengapa. Belajar yang paling efektif adalah dengan mengajar. Maka aku pun mencintai profesi guru. Aku bercita-cita jadi seorang guru. Ya, aku janji pasti akan jadi guru kelak.

“ Ajarin aku, sholatku bolong-bolong.”

Aku tersenyum. Tak usah diminta aku pun pasti akan mendorongnya untuk rajin sholat. Sholat itu tanda cinta. Cinta dari hamba kepada Robb-nya. Rasa syukur yang berlimpah atas cinta luar biasa yang Robb-nya berikan padanya. Sholat itu kenikmatan hidup di dunia. Sayang sekali rasanya bila tidak sholat.

Alloh mencintai kita meskipun kita berpaling dari-Nya. Menjaga kita. Merawat kita. Mengawasi jantung agar baik kerjanya. Mengatur paru-paru sedemikian rupa menyeleksi hingga hanya oksigen yang boleh terhirup di rupa-rupa udara. Melindungi dengan segala pertahanan tubuh. Bahkan ketika sakitpun tak lepas dari rasa cinta-Nya. Alloh mencintai kita meskipun kita berpaling, durhaka, menghina-Nya. Alloh mencintai kita lebih daripada kecintaan kita pada diri kita sendiri. Di saat kita tidak peduli dengan tubuh kita, makan makanan yang enak tapi merusaknya. Alloh-lah yang senantiasa menjaga seluruh pergerakannya. Alloh menjaga kita sesuai ketentuan-Nya.

Alloh tak kan segera murka kala kita berbuat dosa. Alloh setia menunggu kita kembali. Sebelum tiba masa nafas telah dikerongkongan Alloh selalu setia menunggu kita pulang. Saat kita tersadar dan mencari jalan kembali. Alloh bersegera menemukan kita. Kita mendekat pada-Nya dengan berjalan. Alloh akan mendekat dengan berlari-lari. Bersegera menemui kita pada kasih-Nya yang Maha Luas. Pada cinta-Nya yang tak bertepi. Alloh mencintai kita sekalipun kita melupakan-Nya.

Sholat bukan tuntutan. Bukan beban. Sholat adalah hadiah. Bukti cinta Alloh pada hamba-hamba-Nya. Ia memilihkan waktu yang sempurna biar dekat berdua dengan-Nya. Merajut tali percintaan. Cinta agung antara hamba dan Robb-Nya. Betapa indahnya sholat.

Aku mengerti mengapa sholat masih dirasakan beban. Itu hanya karena kurangnya pemahaman. Minimnya niat untuk sekedar mencari tahu. Krisis daya juang untuk mencari. Seandainya mereka memahami seperti yang aku pahami, ujar imam syafi’i. Sholat adalah senandung cinta. Cinta agung antara Robb dan hamba-Nya. Andai mereka mengerti.

“ Tapi jangan ceramahi aku masalah jilbab sama pacaran dulu. Ntar aku putus wan pacarku, gara-gara kam aja Gi aie.”[1]

Aku tertawa. Bukan main si Ovie milih-milih topik. Kalau aku termasuk sensian orangnya, dia itu kusebut mengotak-ngotakan agama. Menjalankan sesuai kehendak nafsunya. Tapi tidak. Ovie yang baik hati hanya belum paham saja.

“ Yang penting aku sholat lima waktu dulu nah, kalau sudah itu insya Alloh yang lainnya tu ngikut.”

Haha, baiklah kalau begitu. Aku sepakat dengannya. Asal paham semua mudah dijalani. Belajar yang paling dekat dengan kita dulu.

Aku berjalan ke arah lelaki yang masih menelungkupkan wajahnya di kedua tangan. Berjalan? Aku menatap kedua kakiku. Ini lebih tepat disebut melayang. Aku bahkan tak bisa melihat kaki-kakiku.

Laki-laki itu. Sepertinya aku mengenalnya. Dan, ya. Aku memang mengenalnya. Dia mantan kekasihku.  Aku malu mengakuinya tapi ini benar. Dan aku ingat aku masih memendam rasa padanya. Bukan aku, maksudku tubuh itu. Tubuh yang terbaring itu yang memendam rasa. Bukan aku.

Aku bergerak membelai rambutnya. Sepertinya tidak ada larangan bagiku melakukan itu sekarang. Dan dia bahkan tak merasakan belaianku. Mantan kekasihku yang malang. Ia masih mencintaiku rupanya.

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum terbaring di tempat ini, sebelum melayang-layang bak hantu seperti ini. Oh well, kalian bisa sebut aku hantu, apapunlah terserah kalian. Mengapa kalian cerewet sekali? Ini ceritaku, kalian diam saja. Baca saja. Terima saja apa yang akan terjadi nanti. Tak perlu banyak interupsi. Rapat Negara selalu kacau karena banyak interupsi dari para pejabat (sok) pintar yang tak mau kalah itu. Orang-orang (sok) pintar yang congkak. Beginilah jadinya kalau semua orang mulai melupakan ajaran agama. Tak pernah tawadhu. Selalu ingin menang sendiri! -lah, kenapa aku jadi bicara sejauh ini. Pokoknya kalian baca saja. Ini cerita hidupku. Kalian ikut saja. Jangan banyak komentar-

Ingatanku samar-samar. Kulirik jam di dinding kamar tempatku di rawat, jam 10. Kutoleh langit, gelap. Baiklah, kalau begitu ini jam 10 malam. Ini sudah malam, mengapa pasukan slayer tak pulang saja. Ibu dan ayah bisa menjagaku berdua. Mantanku itu harusnya pulang juga. Kasihan ibunya. Ibunya sendirian di rumah. Ia anak semata wayang, ayahnya sudah meninggal.

Aku masih berusaha mengingat apa yang terjadi. Tapi tak bisa, sudahlah mungkin lebih baik memang tak mengingatnya.

Aku melayang mengelilingi lelaki mantan kekasihku. Aku memanggilnya Sirius, satu bintang paling terang, seperti dirinya bagiku. Dia bintangku. Sinar dihidupku.

Aku ingat malam itu di sekolah. Waktu itu malam kepramukaan sekolah. Kami berkumpul larut malam mengelilingi api unggun. Sirius menyengajakan duduk di sebelahku (malam itu malam pertama ia jadi pacarku. Kalau ingat itu wajahku pasti menyemu).

“ Gi, liat!”

Aku mengikuti arah tunjukan tangannya. Bintang yang cemerlang di ujung telunjuknya. Aku tersenyum kepadanya setelah mendapatkan bintang itu dimataku.

“ Bintang itu aku kasih buat kamu.”

Senyumku tertarik tiga senti kekiri, tiga senti kekanan. Plus rona-rona tertutup jingga kobar api. Hangat yang bukan berasal dari unggunnya api. Ia kemudian banyak bercerita, aku mendengarkannya saja dan tersenyum. Sejak saat itu aku memanggilnya Sirius. Nama bintang yang dihadiahkannya untukku.

Satu kebiasaannya yang tak kan kulupa. Ia suka menukar kacamataku dengan kacamatanya. Waktu ia menjelaskan penyelesaian soal, aku bukannya memperhatikan, malah memandangi wajahnya. Ia berhenti begitu menyadarinya. Meniup wajahku. Refleks aku mengerjap. Ia mulai menyentuh ganggang kacamataku, melepaskannya. Melepas kacamatanya. Mengelap kacamata itu dan memosisikannya di depan mataku. Mengambil kacamataku, mengelap kemudian memakainya. Ia selalu begitu. Menukar kacamata kami saat aku mulai memandanginya dan bukannya belajar. Kebetulan minus mata kiri kanan kami sama.

Dia juga suka sekali menarik kuncir kuda rambutku. Tidak sakit. Tapi aku membencinya. Membuat rambutku berantakan. Aku selalu marah dan menatapnya dalam diam kalau ia melakuakan itu. Tapi tetap saja.

Terakhir ia menarik rambutku, aku menatapnya dalam marah seperti yang sudah-sudah. Ia hanya nyengir, mengajakku duduk bersama. Membuka kunciran rambutku. Menyisirnya, entah darimana sisir itu, kukira ia memang menyiapkannya. Mengikatnya kembali dalam satuan kuncir utuh. Rapi dan indah.

Ia menyodorkan sebuah cermin, yang lagi-lagi entah dimana ia mendapatkannya, memintaku melihat ke arah cermin dengan senyum tipisnya. Aku menurutinya tanpa komentar. Seorang gadis manis berkacamata menatapku balik. Aku lekas menatap Sirius dan tersenyum padanya.

“ Satu tambahan spesial.”

Sebuah bando beledu merah berpita besar disisinya. Bando itu menekan kepalaku, tak nyaman.  Aku ingin melepaskannya, Sirius menahanku.

“ Coba liat dulu. Manis banget!”

Lagi-lagi ia menyodorkan padaku cermin yang membuatku menatap seorang gadis manis berkacamata, kini dengan sebuah bando di kepalanya. Wajah gadis itu merona. Aku merasakan pipiku panas sampai ketelinga. Aku tersenyum pada Sirius. Selalu tersenyum seperti itu. Tiga senti kekanan, tiga senti kekiri. Tanpa bicara, hanya tersenyum. Selalu begitu.

Itu hari terakhirku bersamanya. Sehari setelah itu aku ikut kakakku menginap di Pondok Al-Ikhlas, dua minggu liburan semester. Liburan yang mengubah segalanya. Aku putus dengan Sirius. Itu yang terbaik. Karena aku benar menyayanginya.

Aku putus dengannya karena aku menyayanginya itu benar. Keputusan untuk mengakhiri hubungan bodoh ini adalah yang terbaik untukku dan untuknya. Aku tak ingin mengotorinya dan aku tidak ingin membiarkannya, orang yang paling kusayangi, menjadi sebuah titik noda dihatiku. Aku ingin ia selalu mendapat posisi terbaik. Bukannya menjadi titik noda yang harusnya dibuang.

Dia kekasihku. Aku mencintainya. Benar-benar cinta. Tapi ada yang lebih mencintainya. Cinta yang jauh lebih besar. Cinta yang membuatku malu bahkan untuk bilang aku mencintai Sirius. Cintaku bukan apa-apa dibandingkan cinta-Nya.

Sirius juga menyayangiku itu benar. Aku tahu itu waktu dia menangis memohon padaku untuk kembali. Aku terluka dalam melihat air matanya. Ia bahkan tidak menangis waktu ayahnya meninggal. Ia seorang gagah yang tegar. Tapi aku sungguh tak bisa berbuat apapun.

Aku melakukan ini karena aku peduli padanya. Aku rela menyerahkan seluruh hidup dan nyawaku untuknya. Untuk kebaikannya. Keputusan ini jelas membuatku berdarah-darah. Dan ini untuknya. Karena aku sayang padanya. Karena aku cinta. Aku cinta!

Aku merasa runtuh, aku minta kakak memelukku. Dan aku luruh dalam dekapnya. Kakak membelaiku.

“ Adik perempuanku yang sholehah. Setelah ini kakak yakin kau akan jadi bidadari.”

Aku marah pada kakak. Bidadari apanya! Aku kesakitan begini. Aku lebih memilih bersama Sirius dibandingkan menjadi seorang bidadari kesepian tanpanya. Namun kecupan lembut kakak dikeningku membuat api yang berkobar-kobar menjadi semilir angin sejuk. Membelai-belai hatiku. Merasakan cinta yang lain. Alloh pasti sangat menyayangiku karena ini. Hatiku perih tapi aku bahagia. Alloh pasti sedang sangat menyayangiku saat ini. Lebih dari biasanya.

Cinta sejati suci datang dari keimanan dan ketaatan pada Alloh dan rosul-Nya. Cinta yang sesungguhnya suci dan menyucikan. Bukanlah cinta saat kehadirannya menjauhkanmu dari Maha Pencintamu. Bukanlah cinta saat hadirnya membuatmu berujung pada kenistaan dosa dan neraka. Cinta bersumber dari Sang Pencipta cinta. Ikutilah petunjuknya dalam mengelola cinta. Dan kau akan lihat, selalu ada cinta yang bersinar-sinar disana untuk menyelimutimu dengan cinta dan menaungimu dalam rahmat.

Tak mudah untuk kembali bangkit dan berdiri. Aku bersyukur semua terjadi dipenghujung tahun mata ajar dan kami terpisah oleh dua sekolah lanjutan yang berbeda. Aku dengar dia pindah kota. Dia bahkan tak pamit padaku. Tapi biarlah. Sirius, aku terluka begini karena aku mencintaimu. Suatu saat nanti kau pasti akan tahu.

Aku ingat sekarang! Aku ingat kenapa aku bisa terbaring sekarat disini. Sirius pulang. Dia kembali. Kecelakaan yang menimpaku berhubungan dengan kedatangannya. Dan aku juga ingat hari itu Erin yang penasaran bertanya padaku apakah aku pernah menyukai seseorang. Pertanyaan yang muncul begitu saja, kukira itu muncul karena ia mengagumi aku yang sekarang ini. Sangat terjaga dimatanya. Aku hanya tertawa dalam hati. Tentu saja aku punya seseorang itu. Dan masih. Tapi aku tersenyum saja.

Ovielah yang mulai membongkarnya, tidak begitu juga. Tapi jelas dia tahu. Ovie satu SMP denganku dulu.

“ Ya eeyaalah, secara aku tau siapa orangnya.”

Aku berdoa banyak-banyak, hamba mohon ya Alloh. Bungkamlah Ovie. Dan Ovie benar-benar tak melanjutkan. Amin.

Ovie jelas tahu hubunganku dengan Sirius, siapa yang tidak. Bodoh sekali tak melihat kemana-mana kami selalu berdua. Tapi itu masa lalu, aku tak mau siapapun mengungkit-ungkit tentang itu. Dan sekarang Sirius kembali. Datang ke sekolah, menunggu waktu pulang.

Cewek-cewek satu sekolah heboh gara-gara dia. Mereka histeris karena ada cowok keren setengah mati di depan gerbang sekolah. Mereka yang ingin pulang membatalkan niat dan bertahan hanya untuk melihatnya lebih lama. Pasukan slayer tak ketinggalan.

“ Ndi 1 2 3 lagi dah kalau ditawari pacaran wan inya.”[2]

“ Beneh tu, La.”[3]

Awalnya Ovie tak mengenali Sirius. Ia mengenakan blue sun glasses keren. Begitu Sirius membukanya, Ovie tersadar.

“Eh itu bukannya Satria.”

“ Satria sapa?”

“ Iya itu Satria! Satria temenku waktu SMP!”

Buru-buru Ovie menghampirinya, pasukan slayer yang lain girang bukan main ada alasan untuk menghampiri. Ovie menepuk bahu Sirius.

“ Satria!”

“ Eh, Ovie.”

“ Ya ampun, beneran kamu kah ni? Berubahnya aie!”

Mereka pun berbincang. Pasukan slayer sekuat tenaga menjaga sikap agar tetap stay cool walau hati ingin sekali melompat-lompat di tempat. Terlalu senang. Cewek-cewek lain melihat pasukan slayer menghampiri Sirius jadi iri dan sebagian membubarkan diri. Buang-buang waktu saja kalau tetap bertahan. Pasti akan sebal sekali melihat tingkah mereka mengelilingi cowok entah siapa yang tampannya bak artis ibukota.

“ Ngapain kamu ke sini?”

“ Aku nyari Gilang. Kamu tau dimana dia gak?”

Mereka saling pandang cepat, penasaran. Ovie mengerti ada sesuatu. Ia ingat aku bertahan di masjid sekolah. Ia memberitahu Sirius jalan masuk untuk menemuiku. Sirius pun beranjak.

“ Siapanya Gi itu, Vie?”

“ Mantannya.”

“ Gi pernah pacarankah?”

“ Ck ck ck, bisa jualah Gi sekalinya.”

Sirius berbalik. Mereka terhenyak. Disangkanya Sirius mendengar obrolan mereka.

“ Mau tunjukin aku jalannya? Aku gak enak masuk-masuk sekolah orang seenaknya.”

Mereka otomatis setuju.

Aku kebingungan waktu Ovie memanggil dan bilang ada yang mencariku. Ia menunjuk ke arah seorang pria tinggi. Seorang mahasiswa kukira. Aku pikir ia utusan dari universitas untuk menangani peserta lomba fotografi religi sekolah kami. Aku memang menunggunya.

Sirius memang berubah. Dulu dia tak setinggi ini. Potongan rambutnya, style pakaiannya, dan kacamata minusnya entah kemana.

“ Mas Roni yang ngurus fotografer sini ya?”

Ia hanya terdiam. Memandangiku. Aku tak tahu Sirius juga melihat perubahan sangat banyak padaku. Aku tak lagi mengenakan kacamata. Minusku sudah terlalu banyak, aku menggantinya dengan lensa kontak. Mataku begitu dramatis dimatanya. Anggunnya jilbabku membekukannya.

“ Io?”

Hanya ia satu-satunya yang memanggilku begitu. Io, nama satelit Yupiter favoritku. Tapi tak mungkin itu dia. Aku mencari sebuah tanda di keningnya. Sebuah tai lalat kecil di atas alis kanan. Aku menemukannya.

“ Sirius?”

Tiba-tiba aku sesak nafas. Itu yang terjadi kalau kau bisa bernafas. Dan aku benar-benar ingat sekarang alasan aku terbaring disini.

Pasukan slayer mulai keterlaluan. Aku tahu niat mereka baik. Tapi itu membunuhku. Mereka menyusun tipu muslihat agar aku bisa bertemu dan berduaan dengan Sirius. Bagaimana aku tak marah? Aku setengah mati berusaha menjaga diri. Jauh-jauh dari magnet yang menarik-narikku kuat. Seperti batu yang menolak jatuh oleh gravitasi. Mereka bukannya membantuku malah menjerumuskanku. Aku tahu niat mereka baik. Tapi bukan begini! Aku bisa mati dalam pengkhianatan kalau aku menuruti saja kemauan mereka.

Mereka mengajakku ke mall, jalan-jalan. Aku tak tahu mereka bersekutu dengan Sirius. Di department buku mereka pelan-pelan berpencar, tanpa kusadari. Meninggalkanku sendirian. Saat itu Sirius datang seolah tak direncanakan.

Sirius menegurku. Bersikap memang seperti tak sengaja bertemu. Aku mencari yang lain untuk segera melarikan diri. Tapi mereka raib. Aneh sekali. Aku sadar ada sesuatu. Menghubungkan semua kejadian. Aku sempat menangkap bisik-bisik Ovie yang ditutupi secara tidak wajar oleh yang lain. Ila menggandeng tangan kiriku, Alfie ditangan kanan. Arel, Erin, Enez, Karla mepet-mepet. Langka mereka begitu. Aku menatap Sirius untuk mendapatkan kebenaran. Ia pandai bersikap biasa. Tapi ia tidak bisa membohongiku. Mereka gagal mengelabuiku.

Aku menatapnya marah sebelum meninggalkannya. Sirius sadar mereka ketahuan.

“ Io, tunggu.”

Aku berusaha menjaga agar tanganku tak disentuhnya. Berhenti sebentar untuk meyakinkannya akan kemarahanku.

Ia menjajari langkahku. Memohon-mohon. Pasukan slayer berdatangan. Dan aku benci kami jadi tontonan begini. Sirius terus menjajariku. Aku tak mau mendengar kata-katanya. Apapun yang dikatakannya aku tak peduli. Langkahnya lebar. Aku kewalahan. Ia mendahului langkahku. Aku berbalik. Menuju eskalator. Eskalator itu untuk naik bukan turun. Tapi kupaksakan saja melangkah turun. Tak hati-hati, rokku sangkut. Saat melangkah aku terjatuh. Berguling sepanjang eskalator. Orang-orang yang melihatku jatuh berteriak-teriak. Dan jadilah aku melayang-layang begini.

Aku tak mengerti mengapa aku begitu marah. Bila alasannya tidak terima atas perlakuan mereka sedang aku ingin sekali menjaga diriku, tidak harusnya aku begitu. Aku bisa bicara baik-baik pada Sirius. Dia bisa menjauh dariku dan masalah selesai. Mengapa emosi? Membuat mereka menangis-nangis begini. Membuat Sirius kacau. Membuat ayah ibu sedih. Dan kakak? Mana dia? Aku tak melihatnya. Oh itu dia. Baru saja datang. Ia membawa setas penuh barang untuk bermalam menjagaku. Pasukan slayer dan Sirius belum pulang. Aku harus segera bangun agar mereka baikan.

Aduh, sakit sekali!

“ Gi? Bu, Gi bangun! ” Enez.

“ Lamanya kamu baru bangun, Gi.” Ila menangis tambah keras.

Aku lihat Sirius beranjak masuk. Air mataku menetes. Seperti air mata dipipinya.

***

Sirius pindah ke Jakarta. Ibunya memutuskan pulang ke kampung halaman. Aku baru tahu kampung halamannya disana. Bukan di Samarinda ini. Ibu ikut ayah ke sini. Ia sekolah di sekolah beken disana. Ikut klub basket dan menjadi bintang. Tingginya yang bertambah-tambah membantu prestasinya. Ia juga jadi ketua OSIS. Mereka hari itu dapat proyek besar mendatangkan pemain-pemain NBA. Sirius entah bagaimana mendapatkan beasiswa kuliah dan masa depannya terjamin sebagai pemain NBA. Bukan main tak percayanya aku.

“ Aku mau kamu ikut aku, Io.”

Aku masih sakit begini sudah dibebani permintaan itu. Tapi ia tak ada waktu. Bulan depan ia harus berangkat. Ia ingin menikahiku agar bisa dibawanya kesana. Aku bingung.

Sirius datang lagi pagi ini. Pasukan Slayer merendenginya. Heboh sekali. Berangkai-rangkai bunga mawar. Bingkisan. Boneka beruang jumbo. Kamarku penuh hadiah.

Ibu membantuku duduk. Aku tak bisa untuk tidak tersenyum ketika Ila memberiku seikat balon warna warni mengkilap. Meriah sekali kamar ini jadinya.

Sirius mengambil tempat duduk di samping bedku. Memperagakan satu sulap. Entah apa yang akan dilakukannya. Ia memperlihatkan tangannya yang kosong. Meliuk-liukan tangan seperti pesulap pada umumnya. Meraih tangan ke arahku. Menjentikkan jari dibelakang telingaku. Sebuah cincin yang sangat indah muncul dari udara.

“ Maukah kau menikah denganku? ”

Pasukan slayer girang alang kepalang. Mereka tak bisa berhenti bergerak-gerak semangat. Ila memulai,

“ Te-ri-ma! Te-ri-ma! Te-ri-ma!”

Diikuti yang lain. Kepalaku pusing. Aku menoleh ke arah ibuku. Ibu tersenyum, mengangguk cepat. Sirius sudah meminta izin ayah. Juga kakak. Keputusan terserah padaku.

“ Terima! Terima! Terima! Terima! Terima!”

Aku bersiap memberikan jawaban. Mereka serentak diam. Sirius menatapku sungguh. Cincin itu menggodaku. Aku tertunduk. Menghela nafas. Mereka tegang.

Aku nyata menggeleng.

Mereka syok! Pasukan slayer hampir pingsan. Aku tak berani melihat Sirius. Jantungnya pasti sudah berhenti berdetak. Aku menolaknya. Mereka benar-benar terkejut.

Kena kalian.


[1] Ntar aku putusan sama pacarku cuman gara-gara kamu, Gi.

[2] Gak pake hitung 1,2,3 lagi deh kalau ditawarin jadi pacarnya

[3] Bener banget, La!